REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Inggris menentang hukuman mati dalam situasi apapun. Hal tersebut disampaikan oleh wakil duta besar Inggris di Indonesia, Rebecca Razavi. I
a berbicara dalam rangka memperingati hari anti hukuman mati internasional yang diadakan oleh Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI), Senin (10/10) di Jakarta.
Dalam pidatonya, ia mengatakan hukuman mati merusak harkat martabat manusia. "Tidak ada bukti hukuman mati menimbulkan efek jera," katanya.
Pada tahun 2010, menurut Amnesty Internasional, 23 negara masih menerapkan hukuman mati. Ia ingin memastikan standar minimum Uni Eropa dapat dipenuhi di negara yang masih menerapkan hukuman mati.
"Standar tersebut antara lain tidak mengeksekusi perembuan hamil, orang yang mengalami gangguan jiwa dan remaja dibawah 18 tahun. Negara yang menerapkan hukuman mati seolah menganggap bahwa membunuh adalah cara terbaik menyelesaikan masalah sosial," ungkapnya.
Ia mengungkapkan hukuman mati dimanapun tidak mungkin dihapuskan dalam semalam, tapi ia dan mitra internasional akan berjuang untuk menghapuskan hukuman mati selamanya. "Tidak ada bukti perubahan sikap terhadap aksi kejahatan walaupun ia tahu ganjaran atas kejahatan adalah hukuman mati," katanya.
Diskusi Publik
Kenaikan Harga BBM vs. Belanja Senjata Rp. 150 Triliun (Menyoal Transparansi dan Alokasi Belanja Senjata TNI)
Rabu, 28 Maret 2012, Pukul. 14.30 s/d Selesai Tempat:
Kantor HRWG (Human Right Working Group)
Alamat: Jln. Rp Soeroso 41, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Depan Restauran Roro Jonggrang)
Pembicara:
- TB. Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
- Danang Widoyoko (Koordinator ICW)




