Anak Pasangan Lesbian Dilarang Masuk Sekolah Katolik
KatolikKamis, 11 Maret 2010 | 13:53 WIB
DENVER, KOMPAS.com — Gereja Katolik di Denver, Colorado, Amerika Serikat, telah menghalangi dua anak mendaftarkan diri ke sebuah sekolah Katolik karena orangtua mereka lesbian.
Gereja Katolik telah secara aktif menentang pernikahan kaum gay. Menurut ajaran Katolik, pernikahan yang benar hanya antara seorang pria dan seorang perempuan. ”Orangtua yang hidup bertentangan secara terbuka dengan ajaran Katolik dalam hal keyakinan dan moral, sayangnya, pilihan mereka itu telah mendiskualifikasikan anak-anak mereka dari pendaftaran,” kata Keuskupan Denver dalam sebuah pernyataan.
Sekolah Hati Kudus Yesus (The Sacred Heart of Jesus School) di daerah Boulder, sebuah kota yang terkenal dengan politik liberalnya, menginformasikan kepada pasangan lesbian itu tentang aturan tersebut. Kedua perempuan itu diberi tahu bahwa anak-anak mereka dapat menyelesaikan program prasekolah di sekolah tersebut, tetapi tidak diperbolehkan untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi di lingkungan sekolah tersebut.
Putusan yang kontroversial itu menjadi heboh ketika para guru mengeluhkan hal tersebut ke media lokal. Unjuk rasa pun terjadi di Gereja Hati Kudus, Minggu, dengan spanduk berbunyi, ”Apa yang Yesus Akan Lakukan?”
Ketika sejumlah kelompok keagamaan konservatif di AS telah mengamuk terhadap homoseksualitas, Gereja Katolik masih berhati-hati untuk tidak mengutuk kaum gay. ”Gereja tidak dapat menyatakan bahwa orang dengan orientasi homoseksual adalah ’tidak baik’ atau bahwa anak-anak mereka kurang dicintai Tuhan... tetapi apa yang gereja ajarkan adalah bahwa keintiman seksual oleh setiap orang di luar pernikahan merupakan kesalahan (dan) pernikahan hanya dapat terjadi antara seorang pria dan seorang perempuan,” tulis Uskup Charles Chaput dalam sebuah kolom yang diterbitkan, Rabu, di Denver Catholic Register.
Aicila Lewis, Direktur Eksekutif Boulder Pride, sebuah kelompok pembela komunitas gay, mengatakan, organisasinya telah melakukan dengar pendapat dengan pihak Katolik. ”Mereka menginginkan kami untuk sadar bahwa tidak semua orang dari kalangan Gereja Katolik setuju dengan keputusan ini. Itu sebuah peringatan bahwa hal ini akan menyebabkan sebuah kemarahan publik,” kata Lewis.
Pastor di Gereja Katolik Hati Kudus mengatakan, sangat sulit bagi seorang anak dari orangtua pasangan gay untuk memahami ajaran gereja tentang pernikahan saat pulang ke rumah dan melihat sebuah realitas yang berbeda. ”Kami tidak ingin untuk menempatkan anak-anak dalam posisi sulit itu. Kami juga tidak ingin menempatkan orangtua mereka, atau guru, bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik,” tulis Pastor William Breslin dalam sebuah blog.
Diskusi Publik
Kenaikan Harga BBM vs. Belanja Senjata Rp. 150 Triliun (Menyoal Transparansi dan Alokasi Belanja Senjata TNI)
Rabu, 28 Maret 2012, Pukul. 14.30 s/d Selesai Tempat:
Kantor HRWG (Human Right Working Group)
Alamat: Jln. Rp Soeroso 41, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Depan Restauran Roro Jonggrang)
Pembicara:
- TB. Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
- Danang Widoyoko (Koordinator ICW)




