Metrotvnews.com, Jakarta: Solusi konflik Papua tak bisa disamakan dengan konflik Aceh. Sebab, konflik di tiap wilayah memiliki akar khas yang akan berbeda.
Hal tersebut dikemukakan para akademisi yang tergabung dalam Forum Akademisi untuk Papua Damai (FAPD), dalam konferensi pers yang digagas The Indonesia Human Rights Monitor (Imparsial), di Jakarta, Senin (14/11). Menurut FADP upaya penyamaan metode pencarian jalan keluar hanya menimbulkan potensi untuk memperumit keadaan.
“Jangan pertentangkan (solusi) Aceh dan Papua. Pemikiran copy paste itu. Salah kasih resep, nanti mati semua anak orang,” cetus salah satu anggota FAPD dari Universitas Parahyangan, Bandung, I Nyoman Sudira.
Bagi Nyoman, sejarah konflik Papua berbeda dengan latar konflik di Aceh. Di Aceh, katanya, jelas siapa yang memiliki kepentingan dalam konflik itu. Selain itu, kepemimpinan gerakan yang meminta kemerdekaan di Aceh sanga jelas.
Sementara di Papua, permasalahan lebih kepada segregasi masyarakat akibat distribusi ekonomi yang diskriminatif. Selain itu, ketiadaan figur yang representatif menambah sumbu konflik di Papua.
“Setiap wilayah punya sejarah, aktor, dan klaim konfliknya masing-masing. Ini harus dipahami,” tambahnya.
Oleh karena itu, menurut para akademisi, satu-satunya persamaan yang mesti ditiru dari konflik Aceh adalah kemauan politik yang kuat dari pemerintah dalam menuntaskanya. (MI/*)
http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/11/14/71795/Jangan-Disamakan-Konflik-Papua-dengan-Konflik-Aceh/1
Diskusi Publik
Kenaikan Harga BBM vs. Belanja Senjata Rp. 150 Triliun (Menyoal Transparansi dan Alokasi Belanja Senjata TNI)
Rabu, 28 Maret 2012, Pukul. 14.30 s/d Selesai Tempat:
Kantor HRWG (Human Right Working Group)
Alamat: Jln. Rp Soeroso 41, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Depan Restauran Roro Jonggrang)
Pembicara:
- TB. Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
- Danang Widoyoko (Koordinator ICW)




