Dalam pers realesnya yang dikirim ke media di Papua, Senin (14/11), Forum Akademisi untuk Papua Damai melihat, konflik Papua telah berlangsung lama hingga sekitar 50 tahun. Belakangan ini, eskalasinya meningkat tajam seiring dengan munculnya berbagai gejolak politik dan keamanan, yang berujung pada serentetan tindak pelanggaran HAM.
Secara teoritis, konflik di Papua telah memasuki tahapan konflik yang sangat serius, yakni bukan lagi pada tingkat low intensity, melainkan sudah middle intensity, yang berpotensi meningkat ke tahap high intensity bilamana tidak ada resolusi segera.
Konflik Papua sangat potensial memasuki tahapan high intensity bila dipertimbangkan 2 hal berikut. Pertama, gerakan sipil bersenjata telah muncul dan diikuti dengan gerakan politik dengan tuntutan referendum dan dialog politik. Kedua, para aktornya berasal dari generasi ketiga konflik di Papua. Hal ini memproyeksikan konflik berpotensi untuk berkelanjutan.
Konflik yang berkepanjangan dan menimbulkan korban kemanusiaan, seperti pelanggaran HAM berat, penghancuran martabat manusia, alat reproduksi perempuan dan masa depan anak, sangat potensial mengundang intervensi kemanusiaan internasional. Akibatnya, konflik Papua akan bereskalasi menjadi konflik yang berpotensi melibatkan kekuatan asing.
Sehubungan dengan eskalasi konflik di Papua dan respon politik Jakarta, maka Forum Akademisi untuk Papua Damai terpanggil oleh tanggung jawab moral akademisi untuk mencari mekanisme resolusi konflik dari perspektif perdamaian.
Pertama, meminta para pihak untuk segera merumuskan dan menyepakati mekanisme dialog dalam resolusi konflik Papua, sebagai langkah awal untuk memulai dialog. Kedua, meminta para pihak untuk memprakondisikan dan menjadwalkan dialog yang akan dilangsungkan.
Forum ini beranggotakan: Dr. I Nyoman Sudira (Universitas Parahyangan), Dr. Otto Syamsuddin Ishak (Universitas Syiah Kuala), Dr. Pater Neles Tebay (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur), Dr. Antie Solaiman, M.A (Universitas Kristen Indonesia), dan Ir. Sahat Marojahan Doloksaribu, M.Ing (Universitas Kristen Indonesia).
Terus, Shiskha Prabawaningtyas, M.A (Universitas Paramadina), Muhammad Nabil, M.A (Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah), Munafrizal Manan, S.Sos, M.Si (Universitas Al-Azhar Indonesia), Anton Aliabbas, M.Si., MDM (Universitas Pertahanan Indonesia), dan Edwin M. B. Tambunan S.IP, M.Si. (Universitas Pelita Harapan). (Jubi/Lev)
http://tabloidjubi.com/daily-news/jayapura/14716-akademisi-indonesia-serukan-dialog-.html
Diskusi Publik
Kenaikan Harga BBM vs. Belanja Senjata Rp. 150 Triliun (Menyoal Transparansi dan Alokasi Belanja Senjata TNI)
Rabu, 28 Maret 2012, Pukul. 14.30 s/d Selesai Tempat:
Kantor HRWG (Human Right Working Group)
Alamat: Jln. Rp Soeroso 41, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Depan Restauran Roro Jonggrang)
Pembicara:
- TB. Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
- Danang Widoyoko (Koordinator ICW)




