TEMPO Interaktif, Jakarta - Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Polhukam Ansyaad Mbai meminta semua pihak tidak selalu menyudutkan Detasemen Khusus 88 Mabes Polri setiap kali mereka menangkap teroris. "Densus di negara ini tidak ada kawannya, kalau ada teroris mereka yang pertama disuruh menangkap tapi ketika sudah ditangkap, mereka disudutkan dianggap melanggar hak asasi. Tolong dengar juga suara hatinya Densus,"kata dia dalam diskusi Imparsial dengan Tema "Problematika Penanganan Terorisme di Indonesia, di Jakarta, Jum'at (3/9).
Menurut dia, institusi inilah yang menjadi garda depan untuk memberantas teroris selama ini di mana pemahaman masyarakat Indonesia yang tak menganggap serius bahwa terorisme adalah musuh bersama. Ia mencontohkan, pernah suatu ketika saat Densus menangkap teroris, mereka malah disudutkan dengan pemberitaan media bahwa telah menculik aktivis masjid. "Ya jelas masyarakat marah. Inilah yang menjadi salah satu hambatan, persepsi teroris itu bukan musuh bangsa tapi musuhnya Densus saja," kata dia.
Anggota Densus, kata Ansyaad, bukan tidak mengalami permasalahan pribadi dan keluarga. Di tengah suara sumbang yang menilai kinerja penangkapan sejumlah teroris, mereka juga sama seperti masyarakat umumnya. "Ada yang tiga bulan tidak pulang, tahu-tahu sudah kawin lagi," ujarnya.
Soal teroris yang ditembak mati, kata Ansyaad, dirinya tahu betul kondisi pasukan yang menangani teroris ini di lapangan. Secara psikologis, yang ada dibenak anggota tersebut (yang biasanya berpangkat kopral) adalah bahwa mereka (teroris) membawa bom, siap melakukan apapun bahkan bom bunuh diri. Sehingga, saat berhadapan mereka mau tidak mau melakukan tembakan. Namun reaksi ini dianggapnya sesuai dengan pasal 49 KUHP. "Itu (tembakan) kalau ada serangan sekonyong-konyong, menghilangkan nyawa sendiri atau orang lain. Tolong pahami kenapa sampai dia begitu," ujarnya.
Jum'at, 03 September 2010 | 20:41 WIB
MUNAWWAROH
Menurut dia, institusi inilah yang menjadi garda depan untuk memberantas teroris selama ini di mana pemahaman masyarakat Indonesia yang tak menganggap serius bahwa terorisme adalah musuh bersama. Ia mencontohkan, pernah suatu ketika saat Densus menangkap teroris, mereka malah disudutkan dengan pemberitaan media bahwa telah menculik aktivis masjid. "Ya jelas masyarakat marah. Inilah yang menjadi salah satu hambatan, persepsi teroris itu bukan musuh bangsa tapi musuhnya Densus saja," kata dia.
Anggota Densus, kata Ansyaad, bukan tidak mengalami permasalahan pribadi dan keluarga. Di tengah suara sumbang yang menilai kinerja penangkapan sejumlah teroris, mereka juga sama seperti masyarakat umumnya. "Ada yang tiga bulan tidak pulang, tahu-tahu sudah kawin lagi," ujarnya.
Soal teroris yang ditembak mati, kata Ansyaad, dirinya tahu betul kondisi pasukan yang menangani teroris ini di lapangan. Secara psikologis, yang ada dibenak anggota tersebut (yang biasanya berpangkat kopral) adalah bahwa mereka (teroris) membawa bom, siap melakukan apapun bahkan bom bunuh diri. Sehingga, saat berhadapan mereka mau tidak mau melakukan tembakan. Namun reaksi ini dianggapnya sesuai dengan pasal 49 KUHP. "Itu (tembakan) kalau ada serangan sekonyong-konyong, menghilangkan nyawa sendiri atau orang lain. Tolong pahami kenapa sampai dia begitu," ujarnya.
Jum'at, 03 September 2010 | 20:41 WIB
MUNAWWAROH
Member Login
Noticeboard
Seminar Nasional
dalam rangka
"Memperingati Hari HAM
dan Mengenang (alm) Munir 8 Desember 1965 - 7 September 2004”
“Hentikan Kekerasan di Papua menuju Dialog Jakarta-Papua”
9 Desember 2011
Auditorium FISIP Universitas Parahyangan Bandung
Diselenggarakan oleh :
FISIP Universitas Parahyangan, Imparsial dan Forum Akademisi untuk Papua Damai
Jadwal acara dan Pembicara :
Disk
Siaran Pers
Kementerian Pertahanan Sebagai Penghambat Reformasi Peradilan MiliterSiaran Pers Imparsial No.003/siaran pers/imparsial/II/2010 Proses amandemen UU 31/1997 tentang peradilan militer kembali mengalami stagnasi.... Read moreRabu, 03 Pebruari 2010 00:00
" Menyikapi Kedatangan Presiden Barack Obama "Siaran Pers Imparsial No.005/Siaran Pers/IMP/III/2010 " Menyikapi Kedatangan Presiden Barack Obama " Kedatangan Presiden Amerika Seri... Read moreKamis, 11 Maret 2010 20:33
|




