Jakarta, Kompas - Kepala Kepolisian Negara RI baru harus lebih reformis karena banyak agenda reformasi internal Polri yang belum jalan. Komisi Kepolisian Nasional juga tidak banyak berfungsi sebagai sistem pengawasan.
Hal itu dibicarakan dalam diskusi ”Pergantian Kapolri dan Arah Reformasi Polri” oleh Bambang Widodo Umar, dosen Ilmu Kepolisian Universitas Indonesia; Adnan Pandupraja, anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas); dan Al Araf, Direktur Program Imparsial, di Jakarta, Jumat (18/6).
Para pembicara mendaftar agenda reformasi Polri yang belum selesai, seperti kepemimpinan Polri yang melempar kesalahan kepada anak buah, model seleksi pimpinan yang militeristik, sistem perekrutan dan pendidikan yang sarat uang, sampai politik uang. Menurut Widodo, cara memilih pemimpin dalam Polri lewat Dewan cenderung bersifat subyektif. Penilaian tersebut tak didasari oleh data kepegawaian yang memiliki kriteria yang diacu.
Menurut Widodo, organisasi Polri membutuhkan sistem pengawasan yang kuat. ”Justru yang lahir adalah Kompolnas yang fungsinya hanya lembaga penasihat,” kata Widodo.
Pandu dari Kompolnas mengakui kalau lembaganya tidak bisa berfungsi sesuai harapan. Namun, wibawa Kompolnas bisa dikatakan sangat minim. ”Hingga saat ini Kompolnas tidak pernah bertemu DPR, masukan tentang Kapolri saat pergantian Sutanto pun tak ada efeknya,” kata Pandu.
Sementara itu, seusai menghadiri acara Dies Natalis Ke-64 Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Kamis (17/6), penasihat ahli Kepala Polri, Bachtiar Aly, mengatakan, calon kepala Polri lebih dari satu cenderung berpotensi menimbulkan konflik dan politik uang. Oleh karena itu, kemungkinan besar hanya akan ada satu nama yang akan diajukan ke DPR untuk disetujui.
”Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan diajukan satu nama, misalnya politik uang untuk memperoleh dukungan di DPR. Selain itu, di dalam tubuh Polri sendiri nanti dikhawatirkan soliditas terganggu,” kata Bachtiar. (EDN/SF)
cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/1..
Member Login
Noticeboard
Seminar Nasional
dalam rangka
"Memperingati Hari HAM
dan Mengenang (alm) Munir 8 Desember 1965 - 7 September 2004”
“Hentikan Kekerasan di Papua menuju Dialog Jakarta-Papua”
9 Desember 2011
Auditorium FISIP Universitas Parahyangan Bandung
Diselenggarakan oleh :
FISIP Universitas Parahyangan, Imparsial dan Forum Akademisi untuk Papua Damai
Jadwal acara dan Pembicara :
Disk
Siaran Pers
Kementerian Pertahanan Sebagai Penghambat Reformasi Peradilan MiliterSiaran Pers Imparsial No.003/siaran pers/imparsial/II/2010 Proses amandemen UU 31/1997 tentang peradilan militer kembali mengalami stagnasi.... Read moreRabu, 03 Pebruari 2010 00:00
" Menyikapi Kedatangan Presiden Barack Obama "Siaran Pers Imparsial No.005/Siaran Pers/IMP/III/2010 " Menyikapi Kedatangan Presiden Barack Obama " Kedatangan Presiden Amerika Seri... Read moreKamis, 11 Maret 2010 20:33
|




