Jakarta - Terbunuhnya pentolan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kelly Kwalik disesalkan sejumlah pihak. Mata rantai untuk mengungkap aksi kekerasan di area PT Freeport, kini terputus.
"Penembakan ini dilakukan untuk memutus mata rantai. Kalau ingin minta kejelasan, harusnya ditangkap saja dan bukan dibunuh," ujar perwakilan Asosiasi Mahasiwa Pegunungan Tengah Indonesia (AMPTI) Harkus Muluk.
Hal ini disampaikannya pada keterangan pers Jaringan Pembela HAM Peduli Papua di Kantor Imparsial, Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, (22/12/2009). Menurut Harkus, penembakan Kelly adalah tindakan yang tidak berprikemanusiaan oleh aparat.
"Setelah Kelly meninggal, kepada siapa akan dilakukan investigasi mencari jalan terang? Ini memutus mata rantai," tambahnya.
Harkus berpendapat, Freeport sangat arogan dan beroperasi layaknya sebuah negara di dalam NKRI. Hanya karyawan, aparat dan orang yang memiliki hak khusus yang boleh masuk ke sana. Danau di sekitar Freeport tercemar limbah dan terpaksa di minum masyarakat.
"Meski menghasilkan emas yang banyak, masyarakat di sekitar daerah itu tidak pernah sejahtera," jelasnya.
(fiq/fay)
http://www.detiknews.com/read/2009/12/22/144311/1264421/10/tewasnya-kelly-memutus-mata-rantai-investigasi
Diskusi Publik
Kenaikan Harga BBM vs. Belanja Senjata Rp. 150 Triliun (Menyoal Transparansi dan Alokasi Belanja Senjata TNI)
Rabu, 28 Maret 2012, Pukul. 14.30 s/d Selesai Tempat:
Kantor HRWG (Human Right Working Group)
Alamat: Jln. Rp Soeroso 41, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Depan Restauran Roro Jonggrang)
Pembicara:
- TB. Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
- Danang Widoyoko (Koordinator ICW)




