JAKARTA, KOMPAS.com — Kaum perempuan dan anak menjadi bagian terbesar korban konflik dan eksploitasi ekonomi di Papua.
Ketua Pusat Studi Papua Universitas Kristen Indonesia Antie Solaiman, dalam jumpa pers Forum Akademisi Untuk Papua Damai di Jakarta, Senin (14/11/2011), mengungkapkan, kaum perempuan dan anak banyak yang ditelantarkan oknum pendatang dan tentara yang mengeksploitasi alam Papua.
"Selain korban konflik bersenjata, banyak perempuan dan anak jadi korban eksploitasi ekonomi. Di DAS Memberamo dan pedalaman Merauke, banyak terjadi, perempuan Papua dinikahi untuk mendapatkan akses memperoleh hasil alam, seperti kulit buaya di Memberamo dan sarang semut di Merauke," kata Antie.
Setelah keuntungan ekonomi diperoleh, para perempuan dan anak-anak hasil perkawinan oknum pendatang dan tentara itu ditinggalkan.
Menurut Antie, anak-anak dan perempuan korban konflik serta-merta ditinggalkan begitu saja. Masyarakat adat tidak menerima mereka.
"Ini meninggalkan persoalan besar di Papua. Kasihan mereka dieksploitasi kemudian ditelantarkan. Ini menjadi modus di seluruh Papua," kata Antie.
http://regional.kompas.com/read/2011/11/14/21571722/Perempuan.dan.Anak.Papua.Selalu.Jadi.Korban
Diskusi Publik
Kenaikan Harga BBM vs. Belanja Senjata Rp. 150 Triliun (Menyoal Transparansi dan Alokasi Belanja Senjata TNI)
Rabu, 28 Maret 2012, Pukul. 14.30 s/d Selesai Tempat:
Kantor HRWG (Human Right Working Group)
Alamat: Jln. Rp Soeroso 41, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Depan Restauran Roro Jonggrang)
Pembicara:
- TB. Hasanuddin (Wakil Ketua Komisi I DPR RI)
- Danang Widoyoko (Koordinator ICW)




