Imparsial: Eksekusi Mati Lima Tahun Jokowi-JK Meningkat Tajam

AKURAT.CO, Imparsial mengevaluasi praktik hukuman mati pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014-2019. Imparsial mencatat selama lima tahun pemerintahan Jokowi-JK penjatuhan vonis mati atau mengeksekusi mati mengalami peningkatan tajam.

Peneliti Imparsial Hussein Ahmad menyebutkan, banyaknya vonis atau hukuman mati itu dengan alasan bahwa Indonesia darurat narkotika. Hussein menyebutkan, Presiden Jokowi sejak awal pemerintahanya tercatat melakukan tiga gelombang eksekusi terhadap 18 orang yang seluruhnya merupakan terpidana mati kasus narkoba.

“Selain eksekusi mati pada periode ini juga terjadi peningkatan vonis mati yang dilakukan oleh pengadilan di berbagai tingkatan,” kata Hussein saat konferensi pers di Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (10/10/2019).

Hussein mengatakan bahwa pihaknya mencatat pengadilan berbagai tingkatan menjatuhkan vonis mati sebanyak 221 vonis mati baru.

Ia menjelaskan, pada eksekusi mati gelombang pertama yang dilakukan pada tanggal 18 Januari 2015 lalu, enam orang dieksekusi yakni Rani Andriani (Indonesia), Solomon Okafor, Namaona Dennis (Nigeria), Marco A. Moreira (Brasil), Daniel Enemuo (Nigeria), Ang Kim Soei (Belanda), dan Tran Thi Bich Hanh (Vietnam).

Lalu delapan orang dieksekusi mati gelombang kedua yang dilakukan pada tanggal 29 April 2015, yaitu Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia), Martin Anderson (Ghana), Zainal Abidin (Indonesia), Raheem A. Salami (Cordoba), Rodrigo Gularte (Brasil), Sylvester Nwolise (Nigeria), dan Okwudili Ayotanze (Nigeria).

Ia menyebutkan, setahun kemudian, eksekusi gelombang ketiga kembali dilaksanakan pada 29 Juli 2016 dengan mengeksekusi empat orang yakni Freddy Budiman (Indonesia), Michael Titus Igweh (Nigeria), Seck Osmane (Senegal), dan Humphrey Ejike (Nigeria).

“Selain eksekusi mati, angka penjatuhan vonis pidana mati pun meningkat tinggi. Dalam lima tahun terakhir, tercatat sebanyak 221 vonis pidana mati dijatuhkan di berbagai tingkat pengadilan,” jelasnya.

Ia menuturkan, jika dilihat dari jenis tindak pidana, tercatat sebanyak 166 orang atau 75,11 persen dijatuhi vonis mati terkait dengan kejahatan narkoba, 51 orang dalam kasus pembunuhan, tiga orang terkait kasus pencurian dengan kekerasan, serta satu orang lainnya dalam kasus terorisme.

“Angka tersebut kian menambah daftar vonis mati yang dijatuhkan pada era pemerintahan-pemerintahan sebelumnya,” ujarnya.

 

 

Muslimin

 Kamis, 10 Oktober 2019 15:57 WIB

Bagikan :
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *