Pelantikan Andika sebagai KSAD Timbulkan Masalah Regenerasi TNI AD “Dengan mengangkat angkatan 87 ini akan menimbulkan problem di dalam konteks regenerasi di Angkatan Darat. Karena sebenarnya masih ada angkatan 84,85, 86 yang masih potensial menjadi calon KSAD,”

BERITA , NASIONAL , NASIONAL

Jumat, 23 Nov 2018 09:55 WIB

 

KBR, Jakarta- Pelantikan Letjen Andika Perkasa  sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD)  menimbulan masalah  dalam regenerasi di Angkatan Darat. Menurut Imparsial menganggap pengangkatan   yang terlalu cepat karena adanya muatan politis dan kekerabatan.

Direktur Imparsial , Al Araf beralasan timbulnya problem karena Andika Perkasa telah melompati angkatan di atasnya yaitu angkatan 84,85, dan 86 yang masih potensial menjadi KSAD.

“Bahwa kita tahu dinamika pergantian KSAD sebenarnya dengan mengangkat angkatan 87 ini akan menimbulkan problem di dalam konteks regenerasi di Angkatan Darat. Karena sebenarnya masih ada angkatan 84,85, 86 yang masih potensial menjadi calon KSAD,” Kata Direktur Imparsial Al Araf saat dihubungi KBR, Jakarta, Kamis (22/11/2018).

Lebih lanjut, Al Araf menjelaskan bahwa persoalan senioritas yang menimbulkan resistensi akan selalu ada di tubuh TNI AD, jika proses-proses pengangkatan ini terlalu jauh jaraknya. Kata dia, jika   pemilihan Andika yang merupakan angkatan 87 karena dianggap yang  terbaik. Maka pada angkatan yang sama terdapat Mayjen Muhammad Herindra yang meraih penghargaan Adhi Makayasa sebagai individu yang terbaik.

“Kalau Kapolri Tito Karnavian , yang harus melompat Badrodin Haiti alasannya cukup ada pak Tito mendapat Adhi Makayasa di Polri sehingga publik tidak perlu khawatir dalam konteks itu. Sehingga jangan salah kan publik yang memandang pretensi pergantian KSAD ini lebih cenderung dimensi politis dan kekerabatannya ketimbang berbicara tentang profesionalisme TNI kedepan,” pungkasnya.

Kasus Theys

Keluarga tokoh  Papua Theys Eluay menyatakan tak keberatan dengan pengangkatan Andika Perkasa sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Nama Andika sempat disebut dalam surat ayah salah satu terdakwa, Agus Zihof, sebagai pembunuh Theys, 17 tahun lalu.

Anak Theys, Yanto Eluay, mengatakan, keluarga besarnya telah memaafkan semua orang yang terlibat dalam pembunuhan ayahnya, pada 10 November 17 tahun lalu. Theys ditemukan tewas sehari   usai menghadiri undangan peringatan Hari Pahlawan di markas Kopassus di Jayapura.

Dalam kasus Theys Majelis Hakim Mahkamah Militer Tinggi III, Surabaya, Jawa Timur,  menghukum  tujuh personel Kopassus.  Saat itu Letnan Kolonel Infanteri Hartomo, Komandan Satuan Tugas Kopassus Tribuana Papua dan  Prajurit Kepala Achmad Zulfahmi   ajudannya  dihukum pidana 3,5 tahun dan dipecat.   Kapten (Inf) Rionardo, dan Sersan Satu Asrial hukuman 3 tahun penjara.  Anggota Kopassus lainnya yang dihukum adalah   Mayor Doni Hutabarat (3,5 tahun), Letnan Satu Agus Suprianto (3,5 tahun), dan Sertu Laurensius (2 tahun).

Nama Andika muncul belakangan melalui surat yang dikirim oleh Agus Zihof, ayah terpidana, Kapten Inf. Rionardo. Dari penelusuran di berbagai media, surat Agus kepada KSAD saat itu Ryamizard Ryacudu itu menyebutkan  anaknya dipaksa mengakui pembunuhan Theys oleh seorang yang bernama Mayor Andika. 

“Itu semua pihak, baik pribadi atau kelompok atau semua pihak yang terlibat secara langsung atau tidak, sudah kita maafkan. Siapa pun dia, kalau karier militernya ke situ, dari sisi kasus Bapak, tanggal 10 itu kita sudah hentikan semuanya. Itu kan karier mereka,” kata Yanto kepada KBR, Kamis (22/11/2018).

Yanto juga tak berminat mengungkit kembali kasus kematian ayahnya. Yanto berkata, seluruh keluarganya tak akan terlibat, jika ada ada kelompok yang ingin membuka kembali kasus kematian Theys. Ia pun meminta kematian Theys tak dijadikan komoditas politik.

Menanggapi itu, usai dilantik Andika enggan  memberikan jawaban tegas soal keterlibatannya dalam pembunuhan Theys. Dia mempersilakan jika ada pihak yang mau menelusuri masalah itu.

“Monggo. Saya enggak ada alasan untuk melarang mereka. Monggo kalau mereka juga mau menelusuri itu, silakan. Enggak ada yang perlu saya khawatirkan.”


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan :
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *