Pengamat Sebut Penyelesaian Masalah Papua Tak Cukup dengan Pendekatan Ekonomi

RAKHMAT NUR HAKIM

Kompas.com – 05/12/2018, 15:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktut Imparsial Al Araf menilai penyelesaian masalah di Papua tak hanya cukup dengan membangun perekonomiannya. Ia menambahkan, saat ini pemerintah hanya fokus menyelesaikan konflik di Papua dengan pendekatan ekonomi. Hal itu disampaikan Al Araf menanggapi peristiwa pembantaian sejumlah pekerja pembangunan jembatan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. “Seolah-olah dengan mengembangkan proses pembangunan, percepatan pembangunan konflik selesai. Padahal realitas konflik di Papua itu, akar konfliknya bukan hanya persoalan ekonomi,” kata Al Araf melalui pesan singkat, Rabu (5/12/2018). Ia menyatakan, ada empat akar konflik di papua berdasarkan riset yang telah dilakukan sejumlah lembaga. Al Araf mengatakan, empat akar konflik di Papua adalah kesenjangan ekonomi. Hal ini yang menjadi perhatian utama pemerintah.

Kedua, ialah masalah historis atau pun kontroversi historis Papua masuk ke Indonesia, di mana sebagian masyarakat Papua menganggap bahwa masuknya Papua ke Indonesia dimanipulasi. Ketiga adalah persoalan pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan oleh negara sehingga terus menimbulkan tuntutan-tuntutan yang terus berulang. Sementara itu akar konflik keempat menurut Al Araf ialah faktor marjinalisasi. Selain itu, juga adalah masalah kepercayaan di antara negara dengan masyarakat Papua, yang menyebabkan negara, bukan hanya di era Presiden Jokowi, akhirnya melihat konflik di Papua hanya dalam aspek ekonominya saja. “Sementara itu, tiga aspek lainnya belum tersentuh. Misalnya bagaimana menyelesaikan persoalan HAM masa lalu, bagaimana mengatasi persoalan marginalisasi, bagaimana persoalan historis tadi diselesaikan. Sehingga realitas konflik terus terjadi,” lanjut dia.

Pembunuhan sadis dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) di wilayah Nduga, Papua terhadap pekerja PT Istaka Karya. Diduga, sebanyak 31 pekerja tewas. Mereka bekerja untuk membuka isolasi di wilayah pegunungan tengah. Lokasinya jauh dari ibukota Nduga dan Kabupaten Jayawijaya yang terdekat dari wilayah pembangunan jembatan. Informasi yang diterima dari berbagai sumber, para pekerja pembangunan jembatan itu diduga dibunuh lantaran mengambil foto pada saat perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) oleh KKB tak jauh dari lokasi kejadian. Saat salah satu pekerja mengambil foto, hal itu kemudian diketahui oleh kelompok KKB. Hal itu membuat mereka marah dan mencari orang yang mengambil foto hingga berimbas kepada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan.

Bagikan :
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *