RUU Kamnas Tidak Urgent dan Mengancam Demokrasi serta HAM

Siaran Pers Bersama
Koalisi Masyarakat Sipil Reformasi Sektor Keamanan

Rancangan Undang-undang tentang Keamanan Nasional (RUU Kamnas) yang masuk dalam Prolegnas tahun 2015-2019 telah memunculkan draft terbaru tertanggal 15 September 2015. Masuknya RUU Kamnas dalam prolegnas yang di ikuti dengan hadirnya draft terbaru tentunya menjadi pertanyaan publik mengingat RUU ini di masa pemerintahan lalu pernah ditolak oleh kalangan masyarakat sipil karena dipandang bisa mengancam kehidupan demokrasi dan pemajuan HAM.

Kami memandang bahwa kehadiran RUU Kamnas bukannya akan memperbaiki dan memperkuat tata kelola sektor keamanan, tetapi justru akan mengancam kemajuan proses reformasi sektor keamanan dan proses demokrasi itu sendiri. Jika RUU Kamnas disahkan menjadi UU maka akan mengembalikan konstruksi kebijakan keamanan seperti masa orde baru.

Kehadiran RUU Kamnas sejatinya tidak memiliki urgensi dalam pengaturan tata kelola sektor keamanan. Tata kelola sektor pertahanan dan keamanan sebagian besar telah diatur dalam berbagai aturan yang ada yakni mulai dari Konstitusi, Ketetapan MPR, dan berbagai undang-undang bidang pertahanan dan keamanan, seperti UU Pertahanan, UU TNI, UU Polri, dan UU Intelijen.

Kalau alasan pemerintah membentuk RUU Kamnas adalah untuk meningkatkan kerja sama antar aktor pertahanan dan keamanan, khususnya antara TNI dan Polri dalam menghadapi wilayah abu-abu (grey area) ataupun dalam menghadapi situasi darurat maka alasan itu adalah keliru. Keinginan pemerintah untuk mengatasi situasi grey area dan situasi darurat harusnya dijawab oleh pemerintah dengan membentuk UU tugas perbantuan dan revisi UU darurat nomor 23 Tahun 1959.

Dalam perspektif reformasi sektor keamanan maka seharusnya pemerintah mengajukan agenda prolegnas di sektor keamanan yang akan berkontribusi bagi kehidupan demokrasi dan negara hukum. Agenda reformasi sektor keamanan yang harusnya menjadi prioritas untuk dibuat dan dibahas oleh pemerintah adalah agenda reformasi peradilan militer melalui revisi UU no 31/1997. Agenda revisi UU no 31/1997 adalah mandat TAP MPR no VII tahun 2000 dan mandat UU TNI itu sendiri. Tujuan reformasi peradilan militer adalah untuk menempatkan dan memastikan agar prajurit TNI tunduk pada peradilan militer dalam hal melakukan tindak pidana militer dan tunduk pada kekuasaan peradilan umum dalam hal terjadi tindak pidana umum.

Kami menilai RUU Kamnas memiliki substansi yang bermasalah yang dapat mengancam kehidupan demokrasi dan pemajuan HAM. RUU Kamnas versi 15 September 2015 tidak memiliki perubahan fundamental dari draft sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa pemerintah ingin memaksakan RUU ini dan mengabaikan kritik dan penolakan dari kalangan masyarakat sipil.

Bahaya RUU Kamnas bagi kehidupan demokrasi dan HAM di antaranya dapat dilihat dalam Pasal yang mengatur tentang persepsi ancaman keamanan nasional yang bersifat karet, sangat luas, dan berlebihan. Hal ini misalnya ditunjukkan dalam penjelasan Pasal 11 ayat 3 tentang ancaman tidak bersenjata yang masih memasukan “diskonsepsi perumusan regulasi” ke dalam kategori ancaman keamanan nasional.

Selain itu, kategorisasi ancaman dalam RUU ini juga berpotensi membuka ruang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan mengingat Presiden bisa menentukan ancaman potensial dan ancaman aktual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 RUU Kamnas. Sementara yang dimaksud dengan ancaman potensial dan ancaman aktual sangat longgar dan bersifat karet. Semua hal bisa dikategorikan sebagai ancaman potensial dan ancaman aktual.

Dalam konteks itu, bisa saja sikap dan pandangan kritis gerakan masyarakat terhadap kekuasaan dapat dikategorikan oleh kekuasaan sebagai ancaman keamanan nasional dengan kategori ancaman yang potensial. Gerakan mahasiswa yang menyuarakan kebenaran, kelompok masyarakat anti korupsi yang menyuarakan pemberantasan korupsi, gerakan buruh yang menyuarakan pemenuhan hak-haknya, serikat petani yang menuntut penataan reforma agraria, dan kelompok masyarakat sipil lainnya yang mengkritisi kekuasaan dapat di anggap sebagai ancaman potensial.

Dengan demikian, RUU Kamnas mengandung nuansa sekuritisasi dan dapat mengembalikan pendekatan keamanan seperti pada masa orde baru dimana semua hal dapat dikategorikan sebagai ancaman keamanan nasional dan hal ini tentu bentuk kemunduran demokrasi. Apalagi ditambah dengan pembentukan dewan keamanan nasional yang memiliki fungsi untuk mengendalikan penyelenggaraan keamanan nasional sebagaimana dimaksud Pasal 18 RUU Kamnas tentu akan mengembalikan struktur serupa tapi tak sama seperti Kopkamtib atau Bakortstranas pada masa orde baru yang berkarakter represif. Fungsi dewan keamanan nasional seharusnya hanya sebagai advisory council untuk presiden sehingga tak perlu memiliki kewenangan mengendalikan.

Kami mendesak kepada pemerintah untuk mengkaji ulang keberadaan RUU Kamnas dalam Prolegnas 2015-2019 dan memprioritaskan pembentukan RUU tentang tugas perbantuan, Revisi UU darurat no 23/1959 dan Revisi UU no 31/1197 tentang peradilan militer di dalam Prolegnas 2015-2019. Bila pemerintah tetap memaksakan pembentukan dan pengesahan RUU Kamnas maka itu artinya demokrasi dan penegakkan HAM di Indonesia akan terancam.

Jakarta, 12 Januari 2016

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan

(Imparsial, ICW, Walhi, Kontras, YLBHI, Elsam, LBH Jakarta, LBH Pers, HRWG, Setara Institute, LHKP Muhammadiyah)

Bagikan :
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *